Sejarah Panjang Tradisi Kerja Sambil Kuliah di Indonesia
Jauh sebelum istilah side hustle atau part-time job populer di media sosial, mahasiswa Indonesia sudah lama mengenal tradisi bekerja sambil menempuh pendidikan tinggi. Tradisi kerja sambil kuliah di Indonesia bukan fenomena baru — akarnya tertanam dalam, bahkan sejak masa pergerakan nasional ketika akses pendidikan masih menjadi hak istimewa segelintir orang. Banyak yang menjalaninya bukan semata karena pilihan, melainkan karena kebutuhan.
Di dekade-dekade awal kemerdekaan, mahasiswa dari keluarga petani, pedagang kecil, atau buruh seringkali harus membiayai sendiri studi mereka. Mereka menjadi penyalin dokumen, asisten dosen, atau bahkan berdagang di pasar sebelum masuk kelas. Situasi itu membentuk mentalitas mandiri yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya mahasiswa Indonesia.
Menariknya, tradisi ini terus bertahan melewati berbagai zaman — dari era kolonial, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga kini di 2026 ketika platform digital membuka lebih banyak pintu penghasilan bagi mahasiswa.
Jejak Historis Tradisi Kerja Sambil Kuliah di Indonesia
Masa Pergerakan dan Awal Kemerdekaan
Pada masa penjajahan Belanda, hanya segelintir pribumi yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi di lembaga seperti STOVIA atau Rechtshoogeschool. Mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu seringkali mengandalkan beasiswa dari organisasi pergerakan atau bekerja sebagai juru tulis untuk menutupi biaya hidup. Tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta dikenal pernah hidup sangat sederhana selama studi di luar negeri, mencatat setiap sen pengeluaran demi bertahan.
Setelah kemerdekaan 1945, perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada mulai membuka akses lebih luas. Namun infrastruktur ekonomi masih rapuh. Tidak sedikit mahasiswa era 1950-an yang bekerja sebagai guru les privat, penjual koran, atau pegawai honorer sambil menjalani perkuliahan penuh.
Era Orde Baru: Mahasiswa dan Ekonomi Informal
Memasuki era Orde Baru di bawah Soeharto, ekspansi perguruan tinggi terjadi besar-besaran. Kampus negeri maupun swasta tumbuh di berbagai kota. Ironisnya, pertumbuhan ini tidak diikuti dengan kemampuan ekonomi keluarga yang merata. Biaya kuliah, kos, dan kebutuhan sehari-hari menjadi beban nyata yang mendorong mahasiswa masuk ke ekonomi informal.
Pada periode 1970-an hingga 1990-an, pekerjaan yang umum digeluti mahasiswa antara lain: ojek sepeda, penjualan barang keliling, hingga menjadi kuli bangunan di akhir pekan. Sebagian lain bekerja sebagai staf administrasi di kantor-kantor pemerintahan dengan status tidak tetap. Tradisi ini bahkan punya istilah informal yang beredar di kalangan mahasiswa saat itu — “mahasiswa karyawan” atau “anak kos ngirit”.
Transformasi Tradisi dari Reformasi hingga Era Digital
Reformasi dan Terbukanya Kesempatan Baru
Pasca Reformasi 1998, iklim kebebasan ekonomi dan munculnya sektor swasta yang lebih dinamis memberi warna baru pada tradisi ini. Mahasiswa mulai mengisi posisi di industri retail, restoran cepat saji, dan pusat perbelanjaan yang mulai marak di kota-kota besar. Ini adalah titik di mana bekerja sambil kuliah mulai dianggap bukan lagi sekadar keterpaksaan, melainkan cara membangun pengalaman kerja sejak dini.
Banyak orang mengalami pergeseran pandangan ini — dari “kasihan dia harus kerja” menjadi “wah, dia sudah punya pengalaman kerja sebelum lulus”. Perubahan perspektif ini perlahan mengubah stigma yang melekat pada mahasiswa pekerja.
2010-an hingga 2026: Digitalisasi Mengubah Segalanya
Hadirnya platform digital — mulai dari ojek online, marketplace, hingga platform freelance — mengubah wajah tradisi kerja sambil kuliah secara dramatis. Mahasiswa kini tidak lagi harus terikat jadwal kerja fisik yang kaku. Seorang mahasiswa bisa menjadi penulis lepas, desainer grafis, atau content creator dari kamar kosnya sendiri.
Data dari berbagai survei kampus menunjukkan bahwa pada 2024–2025, lebih dari separuh mahasiswa aktif di kota-kota besar Indonesia menjalani setidaknya satu sumber penghasilan di luar beasiswa atau kiriman orang tua. Tren ini diperkirakan terus meningkat pada 2026 seiring makin matangnya ekosistem ekonomi digital Indonesia.
Kesimpulan
Tradisi kerja sambil kuliah di Indonesia adalah cermin dari perjalanan panjang bangsa ini dalam memperjuangkan pendidikan di tengah keterbatasan. Dari mahasiswa kolonial yang menyalin dokumen demi bertahan hidup, hingga generasi kini yang mengelola toko online di sela-sela jadwal kuliah — benang merahnya tetap sama: semangat untuk tidak menyerah pada keadaan.
Memahami sejarah ini bukan sekadar nostalgia. Ini adalah pengingat bahwa apa yang hari ini tampak biasa — kuliah sambil menghasilkan uang — dulunya adalah perjuangan keras yang membentuk karakter jutaan alumni Indonesia. Tradisi itu bukan warisan yang perlu diratapi, melainkan akar yang patut dirayakan.
FAQ
Kapan tradisi kerja sambil kuliah mulai dikenal di Indonesia?
Tradisi ini sudah ada sejak masa penjajahan Belanda, ketika mahasiswa pribumi harus mencari penghasilan sendiri untuk membiayai pendidikan. Praktik ini terus berlanjut pasca kemerdekaan karena kondisi ekonomi yang belum merata.
Apa pekerjaan yang paling umum dilakukan mahasiswa Indonesia di masa Orde Baru?
Pada era Orde Baru, mahasiswa umumnya bekerja sebagai guru les privat, penjual barang keliling, atau pegawai honorer di kantor pemerintahan. Pekerjaan ini dipilih karena fleksibilitasnya yang relatif bisa disesuaikan dengan jadwal kuliah.
Bagaimana teknologi digital mengubah tradisi kerja sambil kuliah di Indonesia?
Platform digital seperti marketplace dan aplikasi freelance memungkinkan mahasiswa bekerja tanpa terikat lokasi atau jam kerja tetap. Ini membuat lebih banyak mahasiswa bisa mengelola pekerjaan dan kuliah secara bersamaan dengan lebih efisien dibanding generasi sebelumnya.

